Maya

Adalah Maya, Dia yang merenggutmu dari aku. Kadang aku merasa menang karna dapat membawamu dari Maya. Kamu memperhatikan aku sepanjang hari, tetapi Maya tidak lebih dari dua jam sehari. Itu adil.

Esok, kamu perkenalkan Maya padaku. Aku cemburu? Seharusnya kamu tau perasaanku.

*
Aku menjabat tangan Maya. Ada kebencian mendalam yang secara langsung aku ungkap didepannya. Tidak lebih dari setengah jam, kekasihku pergi. Aku antarkan Maya dulu, katanya. Banyak orang bilang malam adalah saat yang paling mencekam, tapi bagiku tidak. Aku muak bertemu siang. Siang yang menjelma iblis, menggerakkan tangan kekasihku membelai Maya.

**

hujan yang sama seperti sabtu lalu saat kita bersama untuk tertawa di tahun baru. Kamu mengetuk pintu hatiku. kamu murung. Kamu kecewa terhadap sikapku pada Maya. aku menangis tersedu, memohon ribuan maaf. Kamu bergeming. Demi kamu, aku akan menemui Maya dua hari sekali, tidak setiap hari. Kekasihku nampak mulai mengerti. Aku sulit menerima Maya karna dia datang setelah aku disampingmu.
Maya yang kamu puja. Maya yang kedua.

**
Senja semburat ungu kala itu. Kamu mengecup ubun-ubun kepalaku, mendekapku erat. Aku rindu, katamu. Aku juga rindu Kamu, kekasihku. Aku sungguh rindu. Kamu menenggelamkan hidung dalam-dalam di pipiku, lalu mencium bibirku. Ada hasrat kuat
disana, aku merasakan. Lama, aku membalas ciumannya. Bibirnya, matanya, tangannya yang ia lingkarkan di pinggangku. Aku cinta semua lakunya. Setelah segala butir air mata,jenuh yang mengendap, amarah yang meluap, kami bercumbu..
Merantai hati, menitik waktu.

**

Gumpalan awan tipis putih bak kapas berserakan dilangit pagi..
‘Aku berpisah dengan Maya’
Sontak mataku berbinar. Sungguhkah? Jika ini mimpi, Aku ingin mengantongi awan-awan itu, menulis namamu disana. Aku tersenyum lebar. Kamu tau bagaimana lega yang kurasa setelah dahaga menjamah.
‘tapi hanya sementara. Mungkin sampai akhir bulan.’
Lidahku kelu. Dahaga datang lagi. Panas.
‘jangan khawatir, aku akan bisa bagi waktu.’ Aku menunduk ragu.
‘jangan khawatir.’ katamu sekali lagi seolah tau apa yang aku pikirkan. Lalu Kamu merengkuhku, menyandarkan kepalaku di bidang dadamu.
‘aku khawatir’
‘khawatir?’
‘khawatir bulan terhitung habis’ ..dan Maya datang lagi, bisikku dalam hati. Sorot matamu yang teduh membawaku lari menelusurinya hingga Aku sadar kamu menciumi punggung tanganku. Tak henti-henti.

Aku terlena dengan ketidak hadiran Maya diantara kita. Kamu dan Aku, berdua. Hanya kita. Waktu perlahan beringsut meninggalkan aku, melepas jemarimu dari dekapku. Sampai-sampai diujung bulan yang kamu janjikan aku masih tidak rela menanyakan kapan Maya akan Kamu jemput lagi. Aku sadar, Aku memang bukan satu yang menjadi bahagiamu.

Aku ingin diam. Tidak mengungkit Maya barang se-kedipan mata. ‘Aku sayang Kamu,’ berkali aku bilang, dengan meyankinkan aku ingin Kita.

Kita berdua.

 

 

hint: Maya

Advertisements

About Astrid Nur Aryani

Mostly about sweet soysauce. No chilli, please.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Me Today

October 2013
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Me Goodreads

Me Tweets

Me Reader

  • 5,048 hits

Me Facebook

Astrid’s Post

%d bloggers like this: